28 Jun 2012

Maaf Aku Menyerah. Aku Sudah Lelah




Lama. Sudah lama. Aku bertahan, membiarkanmu singgah dalam singgasana hati ini. Membiarkanmu menyibukkan kerja pikiran otak ini. Itu sudah berlangsung cukup lama, bukan cukup lama tapi memang lama, kupikir aku memang tidak menuliskan kata lelah untuk mencintaimu dalam kamus hidupku untukmu, tapi sekarang aku akan menuliskannya dalam kamus yang hanya aku tujukan untukmu, jika aku memang lelah untuk mencintaimu dengan cinta yang tak terbalas.

Cukup perih memang rasanya melupakanmu, berusaha menghapus namamu dari pikiranku, menghapus bayanganmu dalam lamunanku, inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sakit, perih, kecewa. Mungkin lebih dari itu. Apa kau tahu rasanya di acuhkan? Tidak dianggap? Tidak di butuhkan? Aku capek merasa tidak di inginkan kehadiranku di hidupmu. Aku juga punya batas kesabaran Sayang, jangan mempermainkan perasaanku walau kau pikir aku sudah kebal dengan perlakuanmu.

Jleb mungkin kata yang pas saat melihat status-status dalam akunmu, nyesek mungkin iya. Aku baru sadar kalau aku hanya diberi harapan kosong olehmu, tak ada cinta atau kasih sayang sedikitpun, apa aku yang terlalu bodoh menganggap semua tulisan-tulisanmu yang kurang dari seratus empat puluh karakter itu untukku? Aku memang menginginkannya, jika semua tulisan kecilmu itu untukku tapi apa daya, semua keinginanku tidak terpenuhi dengan sempurna. Aku melihat kamu bermain reply dengan dia, sosok yang kurang aku ketahui sebelumnya. Mungkin menyenangkan ya jadi dia, menerima semua perhatianmu, menjadi sandaran dalam tangismu. Beruntung dia yang di pilih olehmu, tidak seperti aku yang mencintaimu dalam diam, dan aku yang bukan siapa-siapa di banding dengannya.

Aku disini berusaha ikhlas, tapi bolehkah aku menerima sejumput rindu darimu? Bolehkah aku menikmati senyummu walau hanya dalam jauh? Bolehkan aku memelukmu walau hanya dalam mimpi? Sejujurnya, aku ingin tertawa denganmu, bahagia dan aku ingin sekali memiliki senyummu. 

Aku tak perlu memberitahumu tentang seberapa rasa sukaku padamu, rasa ingin memilikimu setiap hari, rasa merindukanmu dalam tiap hembus nafasku, apalagi membutuhkanmu, membutuhkanmu itu tentu saja iya karena aku bukan siapa-siapa tanpamu. 
Tapi kali ini aku menyerah, karena seberapa besar rasaku padamu, di matamu aku semu, bagaimana mungkin jika aku terus bertahan mencintaimu tanpa balasan, melihatmu memberikan cinta yang lebih untuknya, untuk gadis yang aku tidak tahu-lebih-kurangnya-dariku. 

Biarkan aku bermimpi seolah pemimpi yang tinggi. Biarkan aku berkhayal seolah pengkhayal yang hebat. Itu semua agar aku bisa merasakan bagaimana di cintai olehmu walau hanya dalam ruang mimpi dan khayalku. Itu saja. Tidak lebih. Iya aku tahu khayal dan mimpi itu hanya dalam angan, bukan dalam kenyataan, aku tahu pada akhirnya aku juga yang sakit, aku juga yang menangis tapi apa boleh buat, jika hanya dalam mimpi dan khayal aku bisa merasa bahagia.

Haruskah aku menunggu dan seterusnya? Menanti dirimu entah sampai kapan, tanpa kata lelah? Jika dengan setia denganmu aku mendapatkan segenggam pahala, entah bahagianya hidupku dalam surga Tuhanku. Tapi nyatanya tidak, aku tidak bisa menunggumu lebih lama tanpa ada kepastian. Tanpa ada perhatian. 

Lelah akhirnya. Aku lelah jika aku hanya mendapatkan sikap acuh-tak acuh darimu. Aku lelah jika terus memberikan cintaku dan tak di gubris sama sekali olehmu. Kerinduan mungkin akan merajalela dalam diriku menjelma dengan setetes air mata, berharap jika kau datang dan akan menghapusnya, andai saja.

Hanya ada rasa rela-tak rela yang lemah.
Tak ada yang tersisa, tak ada kata-kata yang menjelma kata sapa, 
aku hanya bisa menerima jika ini memang seharusnya. 

That's my feel
Desy:)

14 Jun 2012

Itu Salahmu, jika Aku terlalu Mengharapkanmu

Kamu berhasil membuat aku menyukaimu. Terjun bebas lalu tenggelam ke dalam auramu. Kamu itu selalu bisa membuat aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Entahlah, tapi aku lebih menyukaimu dekat dan tidak jauh darimu. Aku tidak tahu mengapa aku terlalu memujamu, kamu itu biasa saja, tidak ada yang berbeda dari yang lain, tapi ulah kecilmu yang menyebalkan itu yang selalu membuat aku merindukanmu.

Sudah berapa lama ya kita saling mengenal? Hampir tiga tahun, mungkin, aku memang tidak tahu kapan tepatnya kita berkenalan, tapi ada yang selalu tepat memaknai perkenalan kita, hati ini yang selalu sama sejak awal kita bertemu. Hati yang selalu menggebu-gebu ketika melihatmu.

Tiga tahun ya? Bukan waktu yang singkat menurutku, kamu memberiku perhatian yang lebih, kamu memberiku sesuatu yang istimewa, kamu selalu membuatku tak bisa lepas dari denganmu, dari sorot matamu, dari sudut bibirmu, dari semua perlakuanmu, walau mungkin hanya aku yang merasakannya. 

Tapi...tiga tahun itu terlalu lama bagiku. Semakin lama kamu jadi semakin semu, semakin sulit ku rengkuh. Tak ada perhatian, tak ada kejutan, tak ada yang istimewa. Apa aku harus menyerah? Meninggalkanmu dan mengubur rasa ini dalam-dalam? Sehingga aku bisa membuka hati untuk orang yang mau menerimaku dengan setulus hati? 

Sebenarnya apa maksudmu, memberikan perhatian lebih tapi akhirnya kau meninggalkanku pula. Itu salahmu! Kamu yang mempermainkanku seolah aku ini boneka dan kamu itu sebagai tuannya. Seakan kamu berhak atas diriku. Kamu yang buat aku terjebak lalu tersesat dalam labirin hatimu. Itu semua karena kamu yang memulai. Itu karena ulahmu yang berlebihan, dan membuatku terjerumus atas rasa sayangku padamu. Jadi salahkah aku? Jika aku menyayangimu? Dan mengharapkanmu tuk menjadi milikku? Jangan bilang dan jangan pernah bilang jika itu semua salahku, karena aku yang terlalu berlebihan menilai semua sikapmu padaku. Awalnya rasa ini biasa, tak ada yang lebih, tapi kamu yang membuat perasaan aku melebihi batas biasa. Jadi masihkah kamu menyalahkanku?

Memikirkanmu membuatku semakin muak, namamu selalu berkeliaran dalam otakku bertaburan tak menentu. Tapi senyummu tak bisa lepas, terlalu melekat, sulit untuk di lepas.

Kamu selalu meyakinkanku bahwa kamu itu nyata, bukan cuma singgah dalam bayang, bukan cuma ada dalam dongeng impianku saja. Kamu itu sungguhan. Asli. Real. Bukan aku yang terlalu gila sampai-sampai hanya khayalan. 

Kamu membawa hari-hariku yang abu-abu menjadi berwarna seperti pelangi me-ji-ku-hi-bi-ni-u.  Menjadi crayon dalam kanvas putihku. Menjadi lentera dalam gelapnya sudut hatiku. 

Ibarat magnet yang sama kutubnya saling bertemu lalu ia serentak bertolak belakang, begitulah hati dan pikiranku, sama-sama bertolak belakang, hati ini tak ingin melepasmu, sedangkan otakku berkata sebaliknya.

Dan sekarang kamu kembali, kamu muncul lagi, menyapaku dengan sapaan selembut kapas. Apa maksudmu? Apa ini bagian dari naskah dramamu? Menyakitiku seperti di sinetron yang ber-season? Apakah ini season ke dua? Berarti peranmu sukses ya? 

Kamu datang lagi, seolah tidak terjadi apa-apa, membuka balutan luka yang dalam yang teramat perih ini yang sudah lama merekat kuat, kamu buka dengan lembut dan sebisa mungkin tak membekaskan rasa sakit. Aku berusaha agar tidak masuk ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya lagi, tapi lagi-lagi kamu meyakinkanku dengan ulahmu yang seakan sosokmu nyata tanpa dusta, berusaha untuk tidak mengingat kenangan, kamu membuka paksa loker kenangan yang sudah ku kunci rapat itu, kamu buka dengan bebas, dan semuanya masih tersimpan rapi disana, kamu membuka paksa sampai kenangan itu jatuh bertaburan dalam rona pikiranku.

Kamu sudah melakukannya lagi. Maukah kamu bertanggung jawab jika aku terpeleset jatuh ke dalam hatimu lagi? Dan tak ada lagi permainan? Kupikir ini sudah lebih dari cukup kamu membuat aku sakit.

Cukup. Sampai disini. Jangan lagi. Kumohon. Aku berusaha untuk melupakan rasa sakit dan meleburkannya, dan jangan kau buat aku merasakan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya. Dan kumohon jangan menyalahkanku jika aku terlalu menyayangimu dan mengharapkanmu kemarin, kumohon sekali lagi padamu jangan memulai permainan itu lagi dan membuat aku kalah bersama rasa sakit yang dalam dalam ikatan hukuman eratmu untuk kedua kalinya. Kumohon.

Jangan, jangan lagi, kumohon.
Aku tak mau terjebak dalam hatimu lagi 
dan membiarkan sakit ini menjamur lebih lama.
Cerita ini kamu yang memulai,
jangan pernah menyalahkanku jika aku mengharapkanmu!

That's my feel
Desy :)