20 Apr 2012

Kita (memang) Berbeda

Tetes pilu yang ku rasakan hadir kembali, rasa iri kepada orang lain pun seketika datang tanpa ada yang mengundangnya, oh tidak, aku tidak marah karena kekasihku mungkin (sedikit) berbeda dengan  temanku lainnya, walau ini hal yang umum tapi kadang membuatku takut akan kenyataan bahwa kekasihku yang sekarang berbeda keyakinan denganku. 

Mataku tak bisa lepas dari layar handphoneku, takut ketika ada pesan darinya yang aku lewatkan, jari jari nakalku tak bisa melepas handphone itu dari genggamanku, satu jam, dua jam, aku masih sabar sampai dia pulang dari gereja dan membalas pesan singkatku. Tidak, tak tersirat sedikitpun rasa kesal dariku, marah? Marahpun tidak, hanya.. Ya sudah aku mengaku.. Aku sedikit geram menunggu dia membalas pesan singkatku karena dia sedang berdoa dalam gerejanya, berbalut suci ikatan antara ia dan Tuhannya, atau bercengkrama dalam balutan doa yang sakral yang ia panjatkan di depan Tuhannya. 

Aku terdiam menatap layar handphoneku yang masih belum ada dering panggilan telepon atau hanya dering sms, semakin sering, semakin sering, tapi tak ada perubahan, nihil tak ada satupun dering sms yang bergetar dan berbunyi. Tiga jam. Empat jam. Tak ada tanda-tanda bahwa dia akan memberi kabar siang ini. Nampaknya kesabaranku memang sedang di uji, mengerti? Ya aku mengerti bahwa kita memang berbeda dan harus saling memahami, tapi bisakah dia mengerti juga? Mengerti jika aku berbeda keyakinan dengannya, bisakah dia sabar menungguku di luar masjid sampai aku selesai beribadah? Atau hanya dengan sekedar mendengarkan alunan suci Al-qur'an yang keluar dalam bibirku dengan patuh? Apakah kau juga bisa memahamiku?

Aku menyayangimu, tapi apa Tuhan kita mengerti? Apa nanti pada akhirnya aku dan kau tak akan seperti cerita dalam dongeng yang berakhir pada kebahagiaan? Dosakah kita? Memperjuangkan cinta yang tak semestinya kita rasakan? Apa salah jika kita bersama dalam satu agama saja? Ataukah dalam cerita ini harus ada satu yang mengalah? Satu yang tersakiti? Jika aku bilang aku mencintaimu, bibirku tak berdusta, aku memang mencintaimu, tapi apakah perbedaan ini aku akan bertahan sampai akhir pada rangkaian cerita yang kita buat? Mimpi yang kita susun serapi mungkin? Atau dalam cerita ini akan ada yang menangis? Tersakiti sampai mati? 

Kita memang berbeda sayang, kita tidak akan sejalan, lupakan aku secara perlahan, maaf jika aku mengundurkan diri menjadi ratu dalam dongeng yang kita buat, carilah ratu yang sejalan denganmu, sungguh aku mencintaimu, tak ada rekayasa ataupun dusta, tapi aku tak bisa lebih lama bertahan lagi, terima kasih untuk hidup yang berbeda yang kau berikan sampai detik ini.

Carilah ratu yang sejalan denganmu,
lupakan aku secara perlahan
tapi simpanlah aku dalam loker ingatanmu
bahwa aku pernah menjadi bagian dalam cerita dongengmu.

That's my feel
Desy :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar